Month: April 2016

Tinggal

Datang dan pergi menandai kehidupan ini. Orang-orang terdekat, anggota keluarga, sanak-saudara, handai taulan dan rekan-rekan kerja datang dan pergi. Rejeki pun demikian. Tidak ada yang permanen. Ini realita dan mesti diterima. Semua mengalir. “Panta rei,” kata Heraklitus.

Meski semua datang dan pergi, toh orang perlu tinggal. Rumah kediaman diperlukan untuk tinggal. Di tempat tinggal itulah orang mengelola dinamika datang-pergi-nya kehidupan. Di sana orang merencanakan, melaksanakan dan merenungkan kehidupan. Sebelum memulai bekerja orang merancang tujuan dan hasil yang diinginkannya. Setelah lelah bekerja orang kembali ke rumah; merenungkan pengalaman sehari-harinya. Betapa pentingnya merenungkan kehidupan! “The unexamined life is not worth living,” kata Socrates.

Continue reading

Damai

Mengalami rasa damai-sejahtera itu prioritas bagi manusia. Kebutuhan akan makan-minum, papan, pakaian, pekerjaan, status sosial dan lain-lain memang perlu dipenuhi. Namun terpenuhinya semua itu belum menjamin hidup yang damai.

Mencapai hidup yang damai lebih sulit daripada memenuhi kebutuhan lainnya. Barangkali bukan karena faktor eksternal, lingkungan sosial dan orang lain tidak memberikannya. Tetapi penyebab internal dan situasi batin setiap individu yang menjadi pangkalnya.

Continue reading

Tempo

Pelbagai macam tanda, baik lahiriah maupun batiniah, membedakan kita satu sama lain. Gender, etnis, suku, ras, warna kulit, agama dan lain-lain. Yang satu kaya, yang lain miskin. Sebagian cerdas otaknya, sisanya biasa-biasa saja kemampuan daya pikirnya.

Apapun perbedaan yang ada di antara kita, satu hal membuat kita sama dan tidak mempunyai alasan untuk dibedakan atau didiskriminasi, yakni waktu.

Yang kaya maupun yang miskin, yang cerdas dan pas-pasan kemampuan berpikirnya, yang berkulit hitam, coklat, kuning langsat semua Tuhan beri waktu yang sama. Dua puluh empat jam sehari.

Continue reading

Emansipasi

Memaknai emansipasi secara cermat dan bijaksana sungguh diperlukan. Berbahaya, menyamakan wanita dengan pria. Mengapa?

Pertama, pada sifat dasarnya wanita memang berbeda dari pria. Wanita sesungguhnya lebih kuat daripada pria. Tahukah Anda bahwa lebih banyak bayi lelaki meninggal saat dilahirkan daripada bayi perempuan?

Kedua, baik pria maupun wanita mempunyai tugas berbeda. Itu tidak berarti yang satu lebih baik daripada yang lain. Wanita bertugas melahirkan, memelihara dan menjaga kehidupan. Sedangkan pria bertugas melindungi dan menjamin terselenggaranya kehidupan. Karena itu,  wanita biasanya lebih banyak di rumah; sedangkan pria berada di luar rumah.

Continue reading