Month: May 2016

Mr. P

Yang satu ini merepotkan manusia sejak awal sejarahnya. Bukan hanya pria yang berkepentingan. Wanita pun kerap terganggu ketika Mr.P kurang bagus kualitasnya. Para isteri bisa marah gara-gara Mr. P. Repotnya, ini bukan hanya concern orang awam. Kaum religius dan rohaniwan pun ikut tersangkut.

Walau kehidupannya sudah maju dan modern manusia tidak semakin cerdas menangani Mr.P. Kesannya malah semakin bodoh dan parah. Pelbagai macam konsultasi belum sempurna memberikan solusi. Jalan keluar berdasar nalar tidak juga membikin masalahnya klaar.

Continue reading

Charger

Orang yang tergantung pada handphone dan gawai merasa bahwa charger itu kebutuhan pokok. Tidak pernah boleh lupa membawa charger. Seolah-olah tanpa charger orang merasa akan hidup di tengah hutan, tanpa komunikasi dan relasi dengan sesamanya.

Handphone dan gawai membantu orang terkoneksi dengan orang lain dan merasa diri well-informed. Karena itu, alat-alat itu harus siap menyala dan digunakan selama 24 jam. Jika mungkin ke mana-mana orang harus membawa power bank. Gawai mati berarti hidup terasa sepi.

Continue reading

Disiplin

Orang tahu bahwa pendidikan itu lebih dari pengajaran. Segala upaya membenahi pengajaran tidak serta meningkatkan kualitas dan hasil pendidikan.

Pengajaran sering disempitkan sebagai proses membagi informasi dan ilmu pengetahuan. Sayangnya, memiliki banyak ilmu pengetahuan tidak menciptakan masyarakat yang lebih adil, makmur dan sejahtera. Knowledge does not change (pengetahuan tidak mengubah).

Yang lebih diperlukan adalah pendidikan. Di dalamnya terkandung juga pengajaran. Proses dan syarat pendidikan lebih rumit, sulit dan menuntut komitmen.

Continue reading