Month: June 2016 (page 2 of 2)

Paralel

Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta Kopertis VII, Jawa Timur (26 Mei 2016) bertema Membangun Pendidikan, Mininggikan Peradaban. Ini sangat aktual dan relevan.

Pertama, pendidikan berkaitan erat dengan peradaban. Bukankah peranan pendidikan itu membangun peradaban? Kedua, pendidikan di Indonesia terkesan lepas dari peradaban. Orang mengaku terdidik, tetapi tidak beradab.

Continue reading

Greatness

Manusia itu makhluk mulia. Dia memiliki potensi untuk melakukan hal-hal yang luhur. Kemampuannya itu berasal dari Tuhan alias merupakan anugerah-Nya.

Ketika manusia berprestasi secara luar biasa perlulah dia menyadari bahwa keberhasilannya itu mengalir dari Allah. Manusia yang tidak menyadari hal ini jatuh ke dalam kelemahan-kelemahan.

Continue reading

Gila

Apakah persamaan antara perilaku gila dan tindakan cinta? Keduanya sama-sama tidak rasional; di luar kendali akal budi. Jangan heran, orang yang sedang mabuk cinta kadang berperilaku seperti orang gila. Bayangkan, mereka menganggap dunia ini milik berdua.

Walau gila dan cinta sering berdekatan, ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Pertama, orang gila tidak mencinta. Sedangkan orang mencinta bisa saja mencintai secara “gila” (pazzo, bhs Italia).

Banyak contoh mencinta secara “gila”. Bukankah cinta Yesus kepada umat manusia termasuk dalam kelompok ini? Cintanya sangat radikal dan “di luar akal”. Bagaimana orang rela menderita sedemikian ekstrem?

Continue reading

Dasar

Orang bijaksana meletakkan landasan yang kuat sebelum membangun rumahnya (Mat 7:24-27). Betapa hebat bangunan di atas tanpa fondasi yang kuat akan mudah ambruk.

Bagaikan sebuah rumah negara juga membutuhkan dasar. Kita memiliki landasan kuat yang menopang berdirinya Negara Kasatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni Pancasila. Bung Karno mengatakan bahwa Pancasila ialah dasar negara dan falsafah bangsa Indonesia (Philosophische Grondslag). Pancasila digali dari kearifan lokal suku-suku bangsa Indonesia. Pancasila itu asli milik bangsa Indonesia; pandangan hidup sekaligus cita-cita bangsa Indonesia.

Continue reading

Cinta Kedua

Yang serba nomor dua dihindari orang. Menjadi isteri kedua tidak enak di telinga. Membeli barang-barang second hand memberi kesan pembelinya bukan orang berkelas. Karena itu, semua kecap pun selalu nomor satu.

Kalau barang-barang dunia setingkat kecap saja harus nomor satu, apalagi hal yang sangat esensial seperti cinta. Bukankah kita tidak sudi menerima cinta kelas dua?

Continue reading

Newer posts