Yang satu ini bisa menyangkut hal duniawi-jasmaniah-sensual-individual. Dapat pula bersifat surgawi-batiniah-spiritual-sosial. Maksudnya?

CD itu berfungsi melindungi organ vital dan menutupi aurat agar kehormatan manusia terjaga secara terhormat. Sebagian penganut mistis percaya bahwa CD bisa dipakai sebagai alat (guna-guna) untuk memperoleh cinta. Ah…yang bener aja.

 

Para penggemar musik pernah menggandrungi CD. Mereka membawanya dalam tas, di mobil atau mengoleksinya di rumah dan di kantor. Dulu para jogger suka berlari sambil menenteng CD yang terhubung dengan telinganya. Demikian pula dunia komputer membutuhkan CD.

Pergaulan politik di tingkat dunia memerlukan CD. Relasi politik antar dua negara dilakukan kedutaan atau konsulat yang melibatkan orang-orang yang disebut Corps Diplomatique. Plat mobil mereka bernomor CD.

Akhirnya, kehidupan sebagian besar orang membutuhkan CD atau Credere Deum (Latin). Artinya, percaya bahwa Allah itu ada. Refleksi akal budi atas fenomena alam dan kehidupan membawa manusia sampai pada kesimpulan itu.

Namun Credere Deum saja tidak cukup. Diperlukan Credere in Deum. Maksudnya, percaya dan berpasrah kepada Allah. Di sini Allah bukan obyek olah pikir, tetapi pribadi yang menjadi partner manusia. Di antara keduanya ada relasi. Hal ini difasilitasi dengan Credere Deo, yaitu sikap percaya kepada Allah mengenai isi pewahyuan-Nya. Bahwa Allah sudah memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia. Misalnya, lewat Yesus Kristus Allah yang menjadi manusia.

Teologi menjelaskan tentang Allah dan merumuskan iman akan Allah. Namun yang diperlukan bukan hanya pengetahuan tentang Allah. Manusia membutuhkan relasi dengan Allah, terlebih sikap percaya dan berpasrah kepada Allah dalam hidupnya.

Sebagian manusia modern lebih percaya kepada akal budi dan hasil-hasilnya, tetapi melupakan pencipta akal budi itu.

Mengandalkan akal-budi saja manusia tidak mampu memahami misteri seluruh kehidupan secara sempurna. Kita bukan mengerti untuk percaya, tetapi percaya untuk mengerti. Credo ut intelligam: saya percaya supaya mengerti.

Universitas Katolik Widya Karya, Malang
29 Juli 2016