Yang serba nomor dua dihindari orang. Menjadi isteri kedua tidak enak di telinga. Membeli barang-barang second hand memberi kesan pembelinya bukan orang berkelas. Karena itu, semua kecap pun selalu nomor satu.

Kalau barang-barang dunia setingkat kecap saja harus nomor satu, apalagi hal yang sangat esensial seperti cinta. Bukankah kita tidak sudi menerima cinta kelas dua?

Repotnya, sedikit dari kita bersedia memberikan cinta yang sesungguhnya. Kebanyakan memberikan cinta bersyarat. “Aku mencintaimu asalkan kau menyenangkan bagiku.” “Aku bersedia berkorban bagimu asal kau menuruti permintaanku.” Inilah wajah cinta kedua.

Cinta kedua ini retak, cacat dan tidak memberikan kebahagiaan sejati. Dia sering menyimpan keraguan, rasa frustrasi, kemarahan dan kekecewaan karena dibayang-bayangi kebutuhan akan afirmasi, afeksi, dan simpati.

Cinta ini membutuhkan cinta pertama, yakni kasih dari Allah. Mengapa? Karena kasih kedua hanyalah pantulan terpatah-patah dari kasih Allah. “The second love is only a broken reflection of the first love and that first love is offered to us by God in whom there are no shadows.” (Henri Nouwen, In the name of Jesus, 1982, A Crossroad book, New York, 40).

Cinta kedua dari manusia sifatnya bersyarat; sedangkan cinta pertama itu murni duapuluh empat karat. Cinta kedua dibarengi dengan bayang-bayang; cinta pertama membuat orang bahagia dan tenang. Cinta kedua kadang mengundang ketegangan yang ramai; cinta pertama memberikan rasa damai.

Karena itu Yesus bersabda:”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” (Yoh 14:9). Dia mengundang kita untuk mengasihi dengan cinta sejati, yakni kasih Allah; bukan dengan cinta kedua.

Kecap saja harus nomor satu; apalagi cinta. Marilah menimba cinta pertama supaya kita siap dan dapat mencintai tanpa syarat, murni duapuluh empat karat.

Universitas Katolik Widya Karya, Malang

14 Mei 2016