“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”  (Mat 5:43-48).

Kendati masyarakat manusia bersifat plural, setiap manusia pada dasarnya khas dan unik; tiada duanya. Mereka mempunyai panggilan yang sama, yaitu menjadi dirinya yang sejati. Siapakah diri manusia yang sejati? Tidak lain dan tidak bukan sebagai citra (gambar) Allah.

Citra menampilkan ciri-ciri (pikiran, kata, perbuatan, simbol atau tanda) dari yang dicitrakannya. Kalau manusia itu citra Allah, tentulah dia dalam batas dan taraf tertentu juga menghadirkan Allah itu sendiri.

Siapakah Allah? Ternyata, Dia itu mencintai semua orang; tanpa pandang bulu. Mataharinya bersinar untuk mereka yang jahat dan yang baik; hujannya turun di atas mereka yang benar dan tidak benar.

Konsekuensi logis dan praktisnya, manusia (citra Allah) itu juga melakukan hal yang sama, yakni mencintai siapa saja; tanpa pandang bulu dan perbedaan. Namun realitas menunjukkan bahwa manusia cenderung mencinati mereka yang mencintainya; berkumpul dengan orang yang satu agama, satu aliran, satu suku, satu hobbi, satu minat dan satu niat.

Tantangan bagi manusia untuk keluar dari pagar eksklusif primordialnya untuk menjadi inklusif dan terbuka kepada sesama, siapa pun mereka. Bisa tinggal bersama mereka yang berbeda; bekerjasama dengan mereka yang satu pendapat dan berbeda pendapat. Tinggal bersama dengan mereka yang cocok dan dengan mereka yang terpaksa menjadi partner cekcok.

Memang berat. Tetapi tidak ada pilihan lain. Itulah jalan untuk menjadi citra Allah dan menjadi sempurna seperti Bapa di sorga.

Unika Widya Karya Malang, 20 Februari 2016

Albertus Herwanta