Mengalami rasa damai-sejahtera itu prioritas bagi manusia. Kebutuhan akan makan-minum, papan, pakaian, pekerjaan, status sosial dan lain-lain memang perlu dipenuhi. Namun terpenuhinya semua itu belum menjamin hidup yang damai.

Mencapai hidup yang damai lebih sulit daripada memenuhi kebutuhan lainnya. Barangkali bukan karena faktor eksternal, lingkungan sosial dan orang lain tidak memberikannya. Tetapi penyebab internal dan situasi batin setiap individu yang menjadi pangkalnya.

Banyak orang menuntut rasa damai-sejahtera bagi dirinya tanpa rela memberikannya kepada orang lain. Menuntut supaya haknya dipenuhi tanpa mau memberikan hak sesamanya. Yang lain menuntut rasa damai dengan memaksa kehendaknya terhadap sesamanya. Lebih celaka lagi, yakin bahwa damai itu hanya tercipta bila orang bersiap terhadap serangan.”Si vis pacem, para bellum.” (bhs Latin) Artinya, jika engkau ingin merasa aman-damai, bersiaplah untuk berperang.

Bagaimanakah orang bisa merasakan damai sejahtera tatkala kondisi batinnya keruh? Mungkinkah damai lahir dari pikiran penuh curiga? Bukankah damai bersumber pada hati yang jernih dan murni, pikiran bebas pretensi?

Tatkala hati menyatu dengan sumber damai, niscaya manusia akan merasakan dan juga memancarkan ketenteraman. Guru dan Sang Damai bersabda:”Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu”(Yoh 14:27). Setiap orang yang menerima damai itu akan memilikinya dan dapat membagikannya kepada yang lain.

Manusia yang rapuh dan terpecah dalam dirinya sendiri tidak dapat menjadi sumber damai. Hanya jika menyatu dengan Sang Damai, dia dapat mengalami dan membaginya.

Sungguh meneguhkan undangan-Nya:”Tinggallah dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak dapat berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh 15:4).

Mereka yang mendambakan damai mesti menyatukan dirinya dengan Sang Sumber damai. Bersama dan dalam Dialah kita akan merasakan dan dapat membagikan damai.

Universitas Katolik Widya Karya, Malang

27 April 2016