Dunia modern diwarnai dengan kesibukan yang luar biasa. Setia pagi kota-kota besar di dunia dipadati oleh arus penduduk masuk kota. Untuk apa? Bekerja.

Bekerja itu bernilai. Di sana manusia mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Karena itu, bekerja itu baik.

Akan tetapi manusia hidup bukan untuk bekerja. Manusia diciptakan untuk bahagia. Kebahagiaan itu ditemukan di dalam diri manusia; bukan di luar, seperti dalam bekerja.

Menguras seluruh tenaga demi bekerja, menghabiskan energi sepanjang hari untuk kerja dan menenggelamkan diri dalam kesibukan sehari-hari sampai melupakan diri sendiri tentu bukan ritme hidup yang layak diapresiasi. Terus-menerus memeras keringat tanpa beristirahat bukanlah hidup yang sehat.

Bapa rohani menasihati supaya orang memperhatikan kepentingan diri: meluangkan waktu untuk diri sendiri. Mengisi diri dengan doa, meditasi dan latihan rohani. Ini bukan tanda egoisme. Bukankah perintah utama mencakup cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri?

Mencintai dan memelihara diri sendiri itu wajib hukumnya. Namun sulit dilaksanakan dalam dunia modern yang dikuasai ritme kerja, kerja dan kerja. Bukankah banyak orang telah menjadi budak pekerjaan?

Berapa keluarga berantakan karena anggota-anggotanya gila kerja? Berapa rumah tangga terpecah-pecah karena masing-masing warganya asyik dengan hobinya sendiri? Melulu sibuk bekerja atau sibuk bermain saja membuat seseorang bisa terasing dari dirinya sendiri.

Keterasingan ini membuat manusia asing satu sama lain. Situasi ini memancing orang mudah saling mencurigai. Ketegangan tak terhindarkan. Perpecahan dan konflik mudah tersulut.

Betapa pentingnya kembali ke dalam diri, mengenal, mencintai dan memperhatikan diri. Sudah waktunya kita mewaspadai kegiatan dan ritme hidup sehari-hari. Beware the barrenness of a busy life! (Aristoteles)

Albertus Herwanta