“Carilah Tuhan, selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya, selama Ia dekat! (Yes 55:6). Seruan ini terdengar aneh. Bukankah Allah itu Maha-ada dan karenanya dapat dengan mudah dijumpai di mana-mana?

“Allah itu jauh lebih dekat kepada kita daripada diri kita.” (Santo Agustinus dan Santa Teresa dari Avila). Dia tinggal di dalam lubuk hati. Lalu, untuk apa berseru kepada yang berada di dekat kita?

Benar, Allah memang berada di mana-mana dan sangat dekat dengan kita. Namun banyak orang tidak merasakan kehadiran-Nya. Bukan karena Dia absen, melainkan karena manusia menjauhkan diri dari Allah dan tidak mempedulikan kehadiran-Nya.

Secara teritorial Allah sangat dekat dengan kita. Tidak selalu demikian secara rohani. Bukankah orang berdosa menjauh dari Allah? ”All sins are contained in this one category, that one turns away from things divine and truly enduring and turns toward those which are mutable and uncertain.” (Thomas a Kempis dalam The Imitation of Christ). Masuk akal, orang berdosa selalu tidak tenang.

Berkat teknologi manusia dengan sangat mudah memperpendek jarak: menempuh jarak jauh dalam waktu singkat. Ironisnya, secara rohani memperjauh jarak dengan Allah yang amat dekat. Belum pernah dalam sejarah, umat manusia begitu berjauhan dari sesamanya. Justru dalam revolusi teknologi informasi dan komunikasi, relasi manusia dalam satu rumah tangga dan keluarga demikian renggang dan tegang.

Hanya Allah yang mampu memperpendek kembali jarak itu dan mendekatkan kembali manusia satu sama lain. Syukurlah, Dia segera datang untuk mendamaikan manusia dengan Allah sehingga mereka dapat berdamai satu sama lain.

Memang, persoalan utama kita bukanlah “territorial distance” atau lokasi berjauhan, tetapi “spiritual distance” (relasi rohani yang dipisahkan oleh dosa dan kejahatan).

Malang, 4 Desember 2014
Kamis, Adven I Tahun B