Memaknai emansipasi secara cermat dan bijaksana sungguh diperlukan. Berbahaya, menyamakan wanita dengan pria. Mengapa?

Pertama, pada sifat dasarnya wanita memang berbeda dari pria. Wanita sesungguhnya lebih kuat daripada pria. Tahukah Anda bahwa lebih banyak bayi lelaki meninggal saat dilahirkan daripada bayi perempuan?

Kedua, baik pria maupun wanita mempunyai tugas berbeda. Itu tidak berarti yang satu lebih baik daripada yang lain. Wanita bertugas melahirkan, memelihara dan menjaga kehidupan. Sedangkan pria bertugas melindungi dan menjamin terselenggaranya kehidupan. Karena itu,  wanita biasanya lebih banyak di rumah; sedangkan pria berada di luar rumah.

Ketiga, wanita berbeda dari pria supaya keduanya saling melengkapi. “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” (Mat 19:5). Menjadi satu daging bisa diartikan sebagai menjadi sempurna. Pria akan menjadi sempurna berkat wanita dan wanita menjadi sempurna dalam relasinya dengan pria. Pria yang rasional membutuhkan wanita yang emosional; dan wanita yang emosional memerlukan pria yang rasional. Keduanya saling melengkapi; bukan ingin menyamai.

Singkatnya, wanita berbeda dengan pria; tidak sama, dan tidak boleh disamakan. Ketika yang satu ingin menyamai yang lain potensi konflik muncul. Karena itu, emansipasi bukan berarti persamaan; melainkan kesederajatan.

Pertama, wanita sederajat dengan pria karena keduanya sama-sama citra Allah. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27). Kedua, baik wanita maupun pria mengambil bagian dalam kemanusiaan yang sama (bdk. Sila kedua dalam Pancasila). Ketiga, baik wanita maupun pria perlu diberi tempat sesuai dengan kodrat dan martabatnya; tidak disamakan kodratnya.

Gerakan emansipasi wanita sungguh perlu dipimpin oleh kehendak Allah sehingga tidak salah arah. Semoga baik pria maupun wanita dihormati martabat dan kodratnya; diberikan hak dan kewajiban seperti dikehendaki oleh Sang Pencipta.