Hidup ini proses belajar. Selama hidup ini orang bisa belajar tentang apa saja, kapan saja, di mana saja dan dari siapa saja. Saat sedang sakit pun dia bisa belajar.

Selama kena sakit demam Jo-Hok (Jokowi-Ahok) aku belajar banyak sekali tentang pemimpin baru DKI ini. Bayangkan, setiap membaca berita dan menonton youtube-nya ada saja informasi dan inspirasi yang mengisi pikiran dan hati serta memasok energi, pembangkit motivasi. Apa saja yang aku pelajari?

Pertama, disiplin. Rupanya keduanya lama sekali terbiasa dengan disiplin diri. Berpikir, berbicara, dan bertindak secara disiplin? Hal itu tampak sekali dalam performance, baik dalam wawancara di televisi dan komunikasi dengan partner kerjanya.

Kedua, jujur. Kejujuran ini rupanya menjadi modal utama dalam meraih kepercayaan masyarakat. “Honesty is the best policy,” kata Benyamin Franklin. Mereka ini jujur terhadap diri sendiri. Dari sanalah terpancar kebijaksanaan mereka seperti digarisbawahi oleh Thomas Jefferson:”Honesty is the first chapter of the book of wisdom.”

Ketiga, transparan. Kejujuran mereka memancar dalam keterbukaan. Bukankah orang jujur tidak pernah menutupi sesuatu pun? Mereka meyakini benar kata-kata Dalai Lama:”A lack of transparency results in distrust and a deep sense of insecurity.”

Keempat, social networking. Jauh-jauh hari sebelum mereka menyalonkan diri jaringan dengan pelbagai kalangan sudah mereka bangun. Rakyat yang selama ini dianggap komoditas politik untuk merebut kekuasaan mereka tempatkan sebagai tuan.

Kelima, iman; bukan agama. Mereka adalah orang-orang yang menghayati imannya. Bukan sekedar mentaati agamanya. Karena itu, walau berbeda agama mereka bisa serasi bekerjasama karena keduanya meyakini bahwa jabatan adalah sarana mengabdi Allah dan sesama. Status sosial bukan alat menindas, memaksakan kehendak, apalagi mengobar-ngobarkan kebencian dan sikap rasial.

Kelimanya membentuk karakter pemimpin yang loyal. Persis seperti dikatakan Zig Ziglar:“The foundation stones for a balanced success are honesty, character, integrity, faith, love and loyalty.”

Tentu seluruh karakter itu tidak jatuh dari langit. Mereka membentuk diri yang demikian melalui proses yang panjang dalam yang disebut kebiasaan alias habitus.

Singkatnya, kedua tokoh ini menggarisbawahi ini: waspadalah dengan pikiranmu karena itu akan menjadi kata-katamu. Hati-hati dengan kata-katamu karena itu akan menjadi perilakumu. Cermatilah perilakumu karena itu akan menjadi kebiasaanmu. Kebiasaan itu akan menjadi karakter. Akhirnya, karakter itu akan menjadi nasibmu.

Tuhan, ajarlah aku mengisi pikiran dengan kehendak-Mu dan memenuhi ucapan dengan Sabda-Mu sehingga aku menjadi manusia seperti Kaukehendaki dan akhirnya nasibku berakhir dalam Dikau, Sang Kasih dan Sumber Kehidupan.