Manusia melihat itu kodrati. Bagian dari aktivitas sehari-hari. Manusia dan hewan diberi mata untuk melihat. Kendati demikian berbedalah kadar dan kedalaman penglihatannya.

Binatang menatap dengan mata fisik dan merespon atas dorongan insting. Manusia melihat dengan mata kepala, pikiran dan hatinya. Hewan memiliki insting, manusia dibekali insight. Pandangan antisipatifnya melompat jauh ke depan dan mata kontemplatifnya menembus dimensi amat dalam. “Seeing” bagi manusia lebih dari “looking at”, tetapi “imagining”, “interpreting”, “reading”; bahkan “sensing” dan “contemplating”.

Lebih dari itu manusia memandang dengan mata imannya, menangkap makna realitas lewat tanda-tanda. Baginya gunung lebih daripada hasil proses geologis, tetapi mahakarya dari Yang Mahakuasa. Tubuh manusia bukan hanya kesatuan organ-organ biologis yang berfungsi dalam koordinasi sempurna. Manusia itu makhluk ciptaan yang kemanusiaannya melebihi realitas fisik-biologisnya. Kacamata iman melihat manusia sebagai citra Allah. Di sini “seeing” berarti “believing”.

Penglihatan manusia menjangkau dimensi supranatural dan menangkap yang melampaui akal. Manusia bisa percaya kepada Allah yang melewati semua metode dan proses ilmiah. “God is not a hypothesis derived from logical assumptions, but an immediate insight, self-evident as light. He is not something to be sought in the darkness with the light of reason. He is the light.” (Abraham Joshua Heschel).

Bersyukurlah, manusia mampu memandang dengan insight dan mata iman. Betapa mulianya manusia. Insight menghantarnya masuk ke dalam realitas lain tanpa proses berpikir. Iman bagi akal budi adalah kawan; bukan lawan atau saingan. Dengan iman akal-budi dibimbing sampai ke kebenaran sejati; bahkan mencapai keselamatan.

Berkat budi iman dipahami dan dipertanggungjawabkan secara sistematis-rasional-obyektif. Sikap beriman sesuai dengan refleksi akal-budi menjauhkan orang dari pikiran fundamentalis yang berdasar pada argumen “pokoknya”.

Universitas Katolik Widya Karya, Malang
21 Juli 2016