Nirwan Ahmad Arsuka menulis tentang listrik dan membaca (Kompas, 17 Mei 2016). Mengapa listrik dikaitkan dengan membaca? Menurut pendapatnya keduanya membebaskan manusia dari cengkeraman kegelapan lahir dan batin.

Listrik bukan hanya menerangi, tetapi memberikan daya. Kehidupan modern sebagian besar tergantung pada listrik. Mulai rice cooker, seterika, mesin cuci, televisi dan lain-lain bergantung pada listrik. Tanpa listrik hidup modern bakal lumpuh.

Membaca juga memberikan daya batin dan daya rohani. Orang yang mengisi dirinya dengan membaca hal-hal positif dan bernilai berkembang kualitas hidupnya. Horizon pemikiran dan pergaulannya luas. Teman dan sahabatnya banyak (penulis-penulis yang tulisannya dia baca).

Lebih dari itu, membaca mengaktifkan otak. Maka, membaca lebih baik daripada menonton televisi. Banyak orang jompo yang lebih cepat wafat karena lebih banyak menonton televisi daripada membaca.

Membaca memberikan daya hidup. “Reading is to the mind what exercise is to the body,” kata Joseph Addison (1672-1719). Kini bahan bacaan tersedia berlimpah ruah. Ada koran, majalah, buku (cetak dan digital) dan sumber-sumber yang nyaris tidak terbatas. Apakah kita berminat membaca?

Membangkitkan daya rohani dan batin lewat membaca tidak jatuh dari langit. Perlu dibiasakan. Apabila anak-anak dikondisikan untuk suka membaca sejak kecil, niscaya mereka akan menjadi pembaca-pembaca yang aktif. Sebaliknya, bila mereka dibiarkan asyik bermain dengan gawainya demi entertainment belaka, jangan kaget kalau mereka kelak malas membaca.

Tantangan dalam membangkitkan minat baca makin besar. Masyarakat kita mengalami lompatan dari dunia lisan ke dunia digital tanpa melalui fase membaca. Kalau kita tidak cermat dan waspada listrik yang menggerakkan pelbagai piranti alat komunikasi justru membuat anak-anak kita semakin tertinggal dalam membaca. Itu berarti mereka terperangkap dalam kegelapan batin dan rohani. Betapa sedih menyaksikan anak cucu kita hidup dalam kegelapan.

Universitas Katolik Widya Karya, Malang

18 Mei 2016