Museum arkeologi nasional Palazzo Barberini itu berlokasi di atas bukit, tepatnya di Jalan Cortina 1, Palestrina. Palestrina merupakan kota yang jauh lebih tua dari kota Roma. Bayangkan, sudah berapa puluh abad usianya? Bangunan-bangunan kuno yang mengitarinya tidak lenyap ditelan rumah-rumah modern. Jalan-jalannya yang berbatu bagai menghantar orang menuju peradaban masa lalu.

Gedung kuno dari abad ketiga sebelum masehi ini terletak di dalam Istana Barberini dan terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama memamerkan koleksi benda-benda pemujaan dan patung-patung serta ikon-ikon jaman Yunani (helenis). Lantai kedua dipakai untuk memajang peninggalan benda-benda makam (necropoli) dan alat-alat suci. Sedangkan lantai tiga menyajikan dua benda yang kontras: maket plastik dari seluruh Istana Barberini dan peninggalan mengagumkan, yakni mosaik dari abad kedua sebelum masehi. Tema dari mosaik ini adalah Sungai Nil; banjir Sungai Nil di Mesir (l’inondazione del Nilo).

Tampak di sana pelbagai jenis binatang yang mencoba menyelamatkan diri, manusia yang naik perahu, dan segala kepanikan menghadapi banjir itu. Mosaik ini khas karena polikromatis (policromo); perpaduan pelbagai warna dan sepuhan.

Mosaik memang indah karena perpaduan dari warna dan pelbagai macam benda yang ditampilkan dalam satu tema. Ada warna gelap, ada warna terang. Ada yang menonjol dan ada yang tenggelam. Yang berbeda-beda mampu menciptakan keindahan ketika dipadukan bersama secara harmonis.

Kendati mosaik Banjir Sungai Nil ini kurang bagus ketika difoto (karena warnanya kurang tajam), tetap menampilkan seni tingkat tinggi. Betapa hebat karya seni dari zaman lampau yang lebih dari 2200 tahun itu. Alangkah cerdas dan berbakat orang pada waktu itu. Mosaik ini juga membuktikan bahwa batu bisa menyimpan informasi selama berpuluh-puluh abad. Luar biasa visi dan prestasi manusia yang belum mengenal dan memiliki computer technology.

Saat berkeliling bersama romo Tinto dan Jaya di kompleks istana ini, aku sempat berdiskusi tentang bagaimana mereka bisa membangun istana demikian besar. Bagaimana mereka mengangkut pilar-pilar marmer yang amat besar ke atas bukit?

Apakah karena kerja rodi para budak raja? Ataukah ini hasil kreasi mereka sewaktu rekreasi – mereka membangun sambil bersenang-senang; mengisi waktu? Bisa jadi karya-karya dahsyat itu lahir dari motivasi religius-rohani di mana mereka mempersembahkannya kepada dewa-dewi.

Mosaik semangat masyarakat Palestrina di masa lalu memantulkan motivasi religius-rohani yang mendorong dihasilkannya karya-karya besar.

Apakah kita masih mempunyai semangat rohani mendalam untuk mempersembahkan yang terbaik bagi kehidupan dan Tuhan? Ataukah kita tenggelam dalam hal-hal duniawi yang sangat sementara sifatnya? Jika semangat kedua yang lebih mendominasi, jangan heran bahwa hidup kita tidak bakal menghasilkan prestasi gemilang. Jangankan seribu tahun, barangkali seribu hari setelah mati kita tidak dikenang lagi.

Roma, 26 Agustus 2013