Suasana kehidupan sosial negeri kita sedang diwarnai dengan optimisme. Rasa ini bisa tampak dalam wajah ceria, bisa pula terekspresi dalam muka menyeringai. Pemilik wajah pertama mengandalkan Allah. Sementara optimisme kedua lahir dari perasaan semata-mata manusiawi.

Banyak orang menyamakan optimisme dengan perasaan serba positif-aman-pasti alias terjamin. Mereka menyangka bahwa bersikap optimis berarti harus memperoleh yang mereka inginkan.
Mereka berupaya keras mewujudkan optimismenya dengan cara apapun. Tidak peduli pantas atau tidak pantas; sesuai etika atau melanggarnya. Tujuan menghalalkan cara.

Sebaliknya, orang yang optimis berdasarkan iman berbeda penampilan. Dia tenang; tidak khawatir akan hasil akhir. Yang lebih penting adalah hidup pada saat ini. Sambil mengisi hari ini secara baik-positif-konstruktif bagi kepentingan sesama dia melangkah teguh-kuat menghadapi masalah. Dia bebas dari rasa gelisah.

Optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence, kata Helen Keller.

Optimisme memang diperlukan. Namun harus dilengkapi dengan iman dan kebenaran. Optimisme berdasarkan nafsu manusiawi belaka menjauhkan manusia dari rasa aman, tenang, tenteram dan bahagia. Optimisme ini tidak pernah terpenuhi. Sebaliknya, selalu menggelorakan kerakusan tak terpuaskan. Semakin tidak puas, semakin beringas. Karena tuna kontrol diri, maka mudah dimanipulasi.

Sementara optimisme di sebelah sana bersandar pada Allah, diwarnai sikap pasrah; jauh dari pola pikir menang-kalah. Kekayaan batin dan kekuatan jiwanya memancar di wajah. Magnetnya menarik banyak orang, termasuk yang tidak mengenalnya. Mengapa? Karena mengalir dari kebenaran universal, bebas manipulasi dan intrik politik. Kejujuran dirindukan semua orang jujur.

Kita ingin menjadi orang yang optimis. Bagaimanakah optimisme kita selama ini? Semata-mata diukur dengan hasrat-syahwat duniawi ataukah dijiwai roh ilahi dalam jiwa-kalbu yang memanggil untuk bersikap rendah hati?

Universitas Katolik Widya Karya, Malang
17 November 2016