Beberapa bulan terakhir ini tenaga dan pikiranku terserap pekerjaan di luar rumah. Berangkat kerja pukul 07.00 pagi; pulang jam 17.00. Tiba di rumah badan dan pikiran lelah.

Walau secara pribadi masih berdoa dan membaca Kitab Suci, itu bagai rutinitas sehari-hari. Memang, saat melakukannya pikiran dan hatiku tenang. Di luar itu hiruk-pikuk menenggelamkanku dalam sibuk.

Akal budi yang dipadati imajinasi terus menggerakkan badan ke sana ke mari. Semakin jarang aku bisa menenangkan diri dalam renungan dan meditasi.

Akibatnya, waktu untuk menata kamar pribadi pun tiada lagi. Meja kerja berantakan. Lantai dan rak buku tidak teratur. Kamarku menampilkan disorder.

Ternyata, kekacuan internal berbuah disorder eksternal. Pikiran tidak teratur berujung pada logika ngawur. Hati yang berkecamuk tiada henti menciptakan perilaku sarat emosi. Tatkala jiwa dipadati hasrat akan yang fana belaka lahirlah keputusan dan tindakan tidak bijaksana.

Kondisi pribadi ini seolah membantuku memahami situasi saat ini. Putusnya hubungan dengan Allah membuat manusia kurang berpasrah dan suka menebar masalah. Tercerabut dari koneksi dengan lubuk hati orang menebarkan pendapat tanpa pertimbangan nurani. Hati yang gelisah melahirkan masyarakat yang resah dan suhu politik pun gerah. Walhasil, kehidupan bersama jadi susah.

Karena egoisme kelompok dan kepentingan duniawi perilaku orang lepas kendali, abai akan hidup bersama yang butuh harmoni. Hancurlah tali silaturahmi dan interaksi dengan sesama diwarnai balas dendam saling hujat bertubi-tubi.

Tiba-tiba aku teringat akan betapa relevannya spiritualitas (baca: konektivitas). Isinya, relasi akrab dengan Sang Ilahi, komunikasi erat dengan diri sendiri, hubungan positif-konstruktif-bersahabat dengan sesama insani. Tatkala ketiga konektivitas itu tidak lagi serasi, kehidupaan bersama pun digerogoti perilaku pribadi-pribadi pencari keuntungan materi.

Kembali ke dalam diri, aku benar-benar membutuhkan hening supaya mata jiwaku bening dan pikiran-emosiku tidak mudah terpancing. Benar, batin hening dan pikiran teratur adalah sumber hidup damai dan penuh syukur.

Universitas Katolik Widya Karya, Malang
19 November 2016