Dunia ini sudah ada dan akan ada sebelum dan setelah kita ada. Setiap orang hanyalah bagian dari sejarah panjang kehidupan di dunia ini.

Status sosial menegaskan bahwa seseorang menjadi bagian dari kelompok sosial itu. Suami-isteri adalah bagian dari keluarga. Dosen dan mahasiswa itu bagian dari universitas. Warga negara merupakan bagian dari negara. Bahkan orang nomor satu di negeri ini hanyalah bagian dari negara dan bangsa Indonesia.

Karena setiap manusia adalah bagian, kehidupannya merupakan proses terus menerus dalam berpartisipasi. Kita selalu lebih kecil dari realita besar di mana kita mengambil bagian di dalamnya. Orang Inggris mengatakan take part.

Fakta ini semestinya mengajar orang untuk bersikap rendah hati. Tidak ada satu alasan valid pun yang mendukung hasrat berdiri di atas dan merasa diri lebih atau paling hebat. Mereka yang menyombongkan diri dan merasa sebagai yang paling penting lupa bahwa dia hanya berhak mengambil bagiannya.

Benar, kehidupan ini berpartisipasi dalam kehidupan Allah. Dia menciptakan manusia secitra dengan Diri-Nya agar mengambil bagian dalam karya-Nya. Menyadari hal ini manusia akan dijauhkan dari sikap sombong, membanggakan prestasi sebagai hasil kerja pribadi.

Mengingat bahwa semua orang hanya mengambil bagian, kerjasama dan saling melengkapi diperlukan. Yang kuat menolong yang lemah; yang pandai membantu yang belum mengerti; yang senior membimbing yang yunior; yang berpengalaman menunjukkan jalan. Demikian dinamika kehidupan ini terasa indah.

Sadar diri menjadi kunci penting untuk kehidupan yang penuh harmoni. Know yourself erat dengan kenyataan ini. Sebaliknya, lupa dan menyombongkan diri hanyalah mengacaukan kehidupan damai yang didambakan setiap hati.

Di manakah aku berdiri? Siapakah aku ini? Menjadi bagian dari kelompok dan masyarakat mana aku sekarang ini? Apakah aku menyadari diri sebagai bagian dari gambar besar kehidupan ini? Kontribusi apakah telah kusumbangkan selama ini?

Universitas Katolik Widya Karya, Malang

2 Juni 2016