Manusia mempunyai hak asasi. Salah satu yang penting ialah hak untuk makan dan minum. Berkat makan-minum dia bisa hidup dan melaksanakan aktivitasnya. Karena makan dan minum itu hak asasi, membiarkan orang kelaparan dan kehausan adalah kejahatan dan pelanggaran  hak asasi.

Tidak hanya memiliki hak untuk makan dan minum, manusia bebas memutuskan juga untuk tidak makan-minum. Berpuasa, misalnya. Hal itu diputuskan berdasarkan motivasi. Semakin tinggi motivasinya, semakin mulia nilainya. Semakin kuat manusia menahan diri terhadap segala nafsu yang selama ini menguasainya, semakin tampak kualitas kepribadiannya.

Beberapa orang berpuasa untuk mencari kesaktian badani. Misalnya, ditembak tidak mati. Yang lain berpuasa supaya berhasil dalam ujian atau usahanya. Ada pula yang berpuasa karena kewajiban. Dengan memenuhi kewajiban dia memperoleh pahala; atau minimal mengharapkan pujian. Ketiganya bermotivasikan kepentingan diri. Baik motivasi maupun tujuannya ditentukan oleh sang pelaku.

Ada kalanya manusia berpuasa bukan karena alasan manusiawi, tetapi karena kerinduan eksistensial yang ditanam Allah dalam dirinya. Bukankah manusia selalu merindukan hidup bahagia dan sekaligus kerap harus menahan rasa rindunya karena tidak selalu terpenuhi? Lapar akan hidup bahagia jauh lebih berat daripada hasrat akan santapan jasmani. Rasa lapar itu hanya dapat dipuaskan oleh Sang Sumber kebahagiaan.

Manusia yang jatuh ke dalam dosa terpisah dari sumber kebahagiaannya.  Berpuasa dan bertobat menjadi upaya untuk memperoleh kembali belas kasih Allah, Sumber kebahagiaan. Puasa jenis ini  baik. Namun tidak sanggup mengembalikan posisi manusia ke dalam kondisi rahmat asali seratus persen.

Allah, Sang Sumber Kebahagiaan sejati memberikan Diri-Nya dan memenuhi kerinduan manusia. Yesus, Allah yang menjadi manusia, adalah pemberian itu. Maka, ketika Yesus berada di tengah mereka, tidak perlulah manusia berpuasa (Mat 9:15). Mereka yang menyatukan diri dengan-Nya mengalami kebahagiaan sejati. Yang di luar itu dianggap tidak penting lagi.

Universitas Katolik Widya Karya, Malang

2 Juli 2016