Begitu penting rejeki dalam kehidupan ini. Yesus, dalam Doa Bapa Kami pun menyebutnya: “Berilah kami rejeki pada hari ini”. Bukankah hampir sepanjang hari orang bekerja untuk mendapatkannya?

Rejeki itu bisa berupa atau bersifat jasmani, bisa pula rohani. Kebutuhan akan rejeki yang kedua tidak kalah penting dibandingkan dengan yang pertama.

Ternyata, kesehatan manusia ditentukan pula oleh rejeki yang kedua itu. Tatkala raga tidak lagi banyak memerlukan rejeki jasmani, kebutuhan akan rejeki rohani tetap dan semakin perlu dipenuhi.

Konkretnya aku jumpai dalam diri ibundaku yang kini berusia 92 tahun. Sejak jatuh beberapa saat lalu beliau tidak bisa berjalan. Beliau mengeluh sakit kakinya. Aku menghibur beliau:”Ibu tidak bisa berjalan dengan kaki. Tetapi perjalanan rohani tetap bisa diteruskan.” Beliau mengangguk, tanda mengerti.

Bukan hanya sulit berjalan. Penglihatan dan pendengarannya pun amat berkurang. Karena itu beliau berhenti membaca Cafe Rohani. Namun setiap hari beliau setia menimba rejeki rohani. Adikku selalu membacakan Injil dan renungan dari Cafe Rohani.

Aku bersyukur selama dua hari di rumah bisa membacakan Cafe Rohani untuk ibuku tercinta. Juga memperdengarkan renungan dari Fresh Juice. Beliau memegang sendiri Androidku dan menempelkan pada telinganya sehingga semua jelas terdengar.

Kondisi tubuh ibuku memang renta. Namun wajahnya selalu segar dan bersinar. Bukan karena beliau mengonsumsi banyak makanan-minuman cepat-saji yang bervariasi. Tetapi karena beliau senantiasa menimba rejeki rohani dan menjaga kesehatan dengan penuh iman.

Bahwa manusia membutuhkan rejeki jasmani rohani memang bukan teori. Berapa di antara kita sungguh berusaha memenuhi dua kebutuhan itu secara seimbang? Bukankah karena memburu rejeki jasmani tanpa mendengarkan bisikan nurani banyak orang mengalami defisit secara rohani?

Universitas Katolik Widya Karya Malang
5 Desember 2016