Acara-acara akbar seperti konferensi dan konggres memerlukan dua badan pokok, yakni steering committee (SC) dan organizing committee (OC). SC terdiri dari sekelompok orang yang mempunyai tugas dan tanggungjawab mengelola atau mengarahkan kegiatan suatu kelompok. Mereka itu otak atau perancang seluruh kegiatan.

Kegiatan yang melibatkan banyak orang mengandaikan bahwa setiap orang yang terlibat di dalamnya memiliki self-conscience (SC), yakni kesadaran pribadi yang melibatkan hati nurani dan akal-budi. Berkat SC ini orang mempertimbangkan keputusannya secara jernih, seimbang dan matang. Dari sana lahirlah komitmen.
Jaman yang berubah secara cepat ini membawa manusia ke dalam arus eksternal yang sangat deras. Dayanya menyeret manusia keluar dari dirinya. Manusia seakan kehilangan keputusan bebas sadarnya. Keputusannya diambil tanpa self-conscience. Korupsi, misalnya, dilakukan tanpa nurani karena dimotivasi nafsu memiliki lebih daripada yang menjadi haknya. Karenanya, itu melanggar keadilan.
Hilangnya self-conscience ini menyebabkan manusia kehilangan self-control (SC). Pengendara yang melawan arus lalu-lintas memeloti pengendara dari arah sebaliknya sebagai yang bersalah. Tanpa self-conscience dan self-control kehidupan bersama berada dalam bahaya. Pemabuk yang mengendarai mobil mengakibatkan kecelakaan bagi dirinya dan sesamanya.
Rupanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern tidak sepenuhnya bisa menolong manusia dalam kedua hal itu. Diperlukan kemampuan yang melampaui akal-budi. Self-conscience menyangkut dimensi internal (batin-jiwa-hati). Sedangkan self-control berhubungan dengan emosi dan afeksi.
Semakin manusia meninggalkan self-conscience dan self-control semakin manusia kehilangan subyektivitas dirinya; ditarik kekuatan eksternal dan menjadi korban. Situasi ini membuat manusia menderita.
Untuk membebaskannya dari penderitaan itu manusia mesti kembali ke dalam dirinya. Ini tantangan pada jaman yang sangat eksternal-material ini. “A man who as a physical being is always turned toward the outside, thinking that his happiness lies outside him, finally turns inward and discovers that the source is within him.” (Soren Kierkegaard)
Universitas Katolik Widya Karya Malang
11 Agustus 2016