Badan atau tubuh manusia itu ekstensi diri pribadinya.  Demikian pula anggotanya seperti tangan. Fungsinya mengeksekusi perintah dari pikiran dan hati.

Tangan tidak bisa disalahkan ketika dia melakukan tindakan jahat. Jarang orang membenahi tangannya ketika dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perintah hati dan otaknya.

Omar Saddiqui Mateen menembak penikmat klub malam di Orlando, Florida pada Minggu, 12 Juni 2016. Menewaskan 50 orang dan melukai 53 orang. Dia menggunakan tangan. Peluru yang ditembakkan senjatanya pun hanya kepanjangan dari pikiran dan tangannya.

Semua yang dilakukan itu diperintah oleh otak dan hatinya. Sayangnya, mereka rupanya keruh dan dipenuhi kebencian. Kondisi itu membuahkan kejahatan; bahkan kematian. Kebencian menghasilkan kematian. Kebencian yang difasilitasi teknologi membuahkan kematian yang amat tragis dan ngeri.

Manusia modern patut bersyukur atas teknologi; sekaligus mereka dituntut menggunakannya secara berhati-hati. Teknologi hanyalah kepanjangan dari badan yang perlu dikendalikan dengan batin dan jiwa. Tanpa daya rohani dan budi positif-konstruktif penggunaan teknologi berujung pada akibat destruktif.

Pendidikan, baik dalam keluarga maupun di sekolah mempunyai peranan melengkapi teknologi itu dengan pembentukan moral, hati dan akal budi yang matang, seimbang, bersih dan jernih. Mengingat teknologi kerap digunakan secara kurang terkendali, semakin modern kehidupan manusia semakin diperlukan kedewasaan dan tanggungjawab dalam menggunakannya. Pendidikan manusia seutuhnya bagi batin dan moral mulia amat mendesak.

Kita dipanggil untuk menggunakan teknologi tidak hanya demi efektivitas dan efisiensi tetapi untuk mengeksekusi suara hati dan nurani. Dunia modern berteknologi tinggi amat membutuhkan daya rohani pengendali badan dan kepanjanganya.

Menggunakan teknologi tanpa moral akan berakhir pada nasib yang fatal. Omar Saddiqui Mateen akhirnya mati oleh senjata. Bukankah Yesus sudah mengingatkan:”Barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang?” (Mat 26:52). Nah, sejauh mana kita telah memanfaatkan teknologi secara matang dan dengan jiwa, hati dan nurani murni?

Universitas Katolik Widya Karya, Malang

14 Juni 2016