Pelbagai macam tanda, baik lahiriah maupun batiniah, membedakan kita satu sama lain. Gender, etnis, suku, ras, warna kulit, agama dan lain-lain. Yang satu kaya, yang lain miskin. Sebagian cerdas otaknya, sisanya biasa-biasa saja kemampuan daya pikirnya.

Apapun perbedaan yang ada di antara kita, satu hal membuat kita sama dan tidak mempunyai alasan untuk dibedakan atau didiskriminasi, yakni waktu.

Yang kaya maupun yang miskin, yang cerdas dan pas-pasan kemampuan berpikirnya, yang berkulit hitam, coklat, kuning langsat semua Tuhan beri waktu yang sama. Dua puluh empat jam sehari.

Tuhan juga tidak pernah memaksa kita menggunakan waktu itu. Dia memberikan kebebasan kepada kita. Mereka yang rajin menggunakan waktunya untuk hal-hal positif dan produktif akan memetik hasilnya. Sedangkan mereka yang bermalas-malasan, memanfaatkan waktu untuk aktivitas yang sia-sia seperti ngobrol tanpa makna, ngrumpi ke sana ke mari, menghabiskan waktu untuk berbicara tanpa jelas arah dan hasilnya akan menanggung akibatnya.

Tuhan selalu mencintai kita tanpa membeda-bedakan. Dia memberikan kepada setiap kita waktu dua puluh empat jam sehari. Bagaimanakah kita memanfaatkannya? Apakah secara produktif, positif dan konstruktif? Ataukah kita biarkan lewat untuk hal-hal yang tidak berguna dan tanpa makna?

Jawabannya ada pada kita. Ketika malas dan karenanya kita menjadi miskin, apakah Tuhan bertanggung jawab atas kemiskinan kita? Ketika kita menghabiskan waktu untuk membicarakan kejelekan sesama di balik punggungnya, siapa bertanggung jawab kalau kita mempunyai musuh di mana-mana?

Tuhan mahaadil dan memberikan kepada kita waktu yang sama. Bertanggungjawabkah kita terhadap waktu yang Allah anugerahkan kepada kita? “My favorite things in life don’t cost any money. It’s really clear that the most precious resource we all have is time,” kata Steve Jobs.