Datang dan pergi menandai kehidupan ini. Orang-orang terdekat, anggota keluarga, sanak-saudara, handai taulan dan rekan-rekan kerja datang dan pergi. Rejeki pun demikian. Tidak ada yang permanen. Ini realita dan mesti diterima. Semua mengalir. “Panta rei,” kata Heraklitus.

Meski semua datang dan pergi, toh orang perlu tinggal. Rumah kediaman diperlukan untuk tinggal. Di tempat tinggal itulah orang mengelola dinamika datang-pergi-nya kehidupan. Di sana orang merencanakan, melaksanakan dan merenungkan kehidupan. Sebelum memulai bekerja orang merancang tujuan dan hasil yang diinginkannya. Setelah lelah bekerja orang kembali ke rumah; merenungkan pengalaman sehari-harinya. Betapa pentingnya merenungkan kehidupan! “The unexamined life is not worth living,” kata Socrates.

Dalam datang-pergi itu manusia justru dituntut memaknai tinggal secara tepat dan bijak. Pertama, berpartisipasi dalam datang-pergi. Jangan sampai tertinggal. Sebutan warga daerah tertinggal sebenarnya menyakitkan. Bukankah itu berarti belum ikut ambil bagian? Kedua, tidak ditinggalkan. Betapa pedih dan sedih perasaan anak-anak yang ditinggalkan oleh orangtuanya yang harus bercerai. Kecewalah para mahasiswa sejati yang menunggu kuliah, tetapi ditinggalkan dosen tanpa alasan pasti. Akhirnya, orang tidak nyaman dijuluki ketinggalan. Jangan bilang:”Mengejar ketinggalan!” Bukankah ketinggalan berarti di belakang? Bagaimana ketinggalan dikejar? Lari mundur?

Menariknya, tiga pengalaman itu melekat hampir pada diri setiap orang. Supaya tidak sesat pikir dan tepat menembak sasaran diperlukan sikap dan langkah cermat untuk menghadapinya.

Manusia bebas mengambil posisi dalam dinamika datang-pergi. Orang boleh bersikap pasif. Konsekuensinya, tertinggal. Sebaliknya, yang aktif dan antisipatif tidak akan tertinggal. Bahkan bergerak lebih cepat. The early bird gets the worm. Jadi, tertinggal atau ditinggalkan itu hasil dari sikap bebas manusia.

Zaman yang berubah ini menantang sikap kita dalam tinggal. Yang memposisikan di luarnya akan tertinggal, ditinggalkan dan ketinggalan. Sementara mereka yang tinggal dalam perubahan itu akan menikmati indahnya kehidupan ini.

Arus perubahan memang sangat deras. Bisa menghanyutkan dan melenyapkan identitas diri. Bijaksanalah kata-kata ini:”Ngèli ning ora kèli.” Artinya, ikut arus tetapi tidak hanyut. Tinggal dalam identitas diri penting sekali.

Universitas Katolik Widya Karya, Malang

28 April 2016