Immanuel Kant, filsuf Jerman abad ke-18 mengatakan ada tiga tingkat pengetahuan. Pertama, pengetahuan melalui gejala-gejala. Inilah yang disebut ilmu pengetahuan alam. Mengandalkan proses empiris dan hasilnya dapat diukur dan dihitung.

Kedua, pengalaman akan keindahan atau estetika. Menggunakan pancaindera, tetapi tidak berhenti pada gejala-gejala belaka. Pengalaman ini melibatkan kemauan, daya penilaian, emosi dan seluruh diri kita.

Ketiga, pengalaman moral yang melibatkan tentang kebaikan dan keburukan. Yang menempuh jalan yang baik dan benar berani menyerahkan nyawa. “Lebih baik mati daripada mencuri,” demikian prinsip mereka.

Kini banyak orang bangga memiliki pengalaman tingkat pertama saja. Mereka puas memiliki pelbagai macam gelar akademik, tanda bahwa mereka berpengetahuan. Bahkan ada yang membeli gelar dan ijazah.

Sikap ini tidak membawa orang sampai pada pengalaman estetik. Mengapa? Karena pengalaman estetik berkaitan juga dengan kebaikan, kebenaran dan ketuhanan. Membeli ijazah itu melawan kebenaran.

Mentalitas demikian menjauhkan orang dari pengalaman moral. Membeli ijazah tidak hanya salah secara moral, tetapi melanggengkan kepalsuan. Memasang gelar tanpa mempunyai kompetensi sesuai dengan yang tercantum dalam ijazah tentu menyesatkan.

Sayangnya, pendidikan di negeri ini masih menekankan pengalaman tingkat pertama. Terkesan mengabaikan dua tingkat pengalaman lainnya. Buahnya jelas, orang memiliki ijazah sah, namun miskin pengalaman estetik dan nyaris tanpa pengalaman moral.

Sebagian sarjana melakukan profesi tanpa estetika dan moral-etika. Membangun rumah asal jadi tanpa nilai estetika dan melakukan korupsi seenaknya. Bergelar, tetapi kurangajar.

Lembaga pendidikan ditantang untuk melengkapi proses transmisi ilmu pengetahuan dengan pendidikan estetika dan moral. Bukankah hanya lewat tiga tingkat pengenalan itu revolusi mental di negeri ini bisa terealisasi?

Universitas Katolik Widya Karya, Malang
17 November 2015