“Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti akan hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya… Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik – apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya… Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, supaya itu jangan bagimu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan.” (Yeh 18:21-22.24.30b).

“Nila setitik, rusak susu sebelanga.” Pepatah ini tepat disambungkan dengan pesan tentang perlunya bertobat dari nabi Yehezkiel. Perbuatan jahat bisa menghapus nama baik diri atau institusi dan melenyapkan  kepercayaan yang sebelumnya tertanam kuat. Sebaliknya, usaha membenahi diri dan meningkatkan kualitas pribadi dan institusi membuahkan kepercayaan dan nama yang luar biasa.

Banyak kita jumpai contoh konkretnya. Ada banyak universitas yang dahulu memiliki fakultas dan program studi yang sangat bagus, dicari dan disegani. Akibat manajemen asal-asalan dan perilaku orang-orang di dalamnya yang curang, jahat, korup, malas dan tidak profesional kepercayaan itu hilang dan layanannya tidak laku sama sekali.

Sebaliknya, ada universitas-universitas yang sebelumnya kecil, amburadul dan nyaris tidak diperhitungkan. Namun karena membangun nilai-nilai, mentalitas dan budaya warganya yang sangat baik,rapi, tertib, penuh sikap disiplin, berkualitas dan profesional mereka melejit ke atas dan disegani. Masyarakat melupakan kondisi yang dulu kualitasnya jelek.

Di era perubahan dan komunikasi yang sangat terbuka ini menjaga kualitas dan kompetensi pribadi dan lembaga adalah keharusan (It is a must, kata orang Inggris).

Apakah yang selama ini terjadi: kita meninggalkan segala kesalahan, hidup tidak tertib, pelayanan tidak berkualitas dan tanpa tanggung jawab untuk menjadi baik, benar, berkualitas, profesional dan terpercaya atau sebaliknya? Apapun langkah yang telah kita ambil, akibat dan buahnya sudah bisa diprediksi; jawabannya tidak perlu disebutkan di sini.  

Unika Widya Karya, 19 Februari 2016

Albertus Herwanta